Sabtu, 19 Oktober 2013

contoh makalah/ proposal plenary discussion

Assalamualaikum...
hai hai....nih via share contoh makalah yg terpilih untuk plenary discussion blok 1 thn 2013 :D
semoga bermanfaat yahhh        

TUGAS TUTORIAL
MAKALAH


MOTTO


Teruslah bermimpi, karena Tuhan akan merangkul semua mimpimu. (Andrea Hirata)

Jika kamu punya keinginan yang kuat, seluruh alam semesta akan bersatu membantumu mewujudkan keinginan itu. (Paulo Coelho)



PRAKATA


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur tim penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga tim penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “SKENARIO PLENARY DISCUSSION” tepat pada waktunya.
Maksud penulisan makalah ini adalah guna memenuhi salah satu tugas  tugas Tutorial Blok 1 : Ketrampilan Belajar, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta..
Dalam penulisan karya ilmiah ini tim penulis banyak memperoleh bantuan baik dukungan moriil maupun materiil dari berbagai pihak. Kepada mereka semua yang telah membantu dalam penulisan makalah ini, yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu, semoga amal baik bapak, ibu dan saudara mendapat imbalan dan balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Tim penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini belum sempurna. Sebagaimanahasilkaryamanusia yang takluputdarikekurangandankesempurnaantim penulismengharapkankritikdan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan penulisan makalah di masa mendatang.
Akhirnya, tim penulis berharap agar karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi para pembaca baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Amin.
Wassalamualaikum Wr. Wb

                                                               
                                                                                                Yogyakarta, 29 September 2013


                                                                                                                Tim Penulis


DAFTAR ISIBAB 1

PENDAHULUAN


1.1.        Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Dalam memperbaiki kualitas pendidikan dapat ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan yang  memungkinkan kita berpikir lebih kritis, kreatif, dan lebih produktif.
Memasuki jenjang perkuliahan khususnya di Pendidikan Dokter Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Mahasiswa kedokteran akan dituntut menjadi dokter yang aktif, inovatif, serta dapat menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat. Maka diperlukan kurikulum yang dapat merangsang mahasiswa kedokteran untuk berpikir secara kritis dan analitis. Dimana sistem pembelajarannya adalah student centered yaitu terpusat pada mahasiswa itu sendiri. Dalam proses ini, adanya kurikulum Problem Based Learning yang memudahkan kita dalam menuju aspek-aspek kompetensi yang harus di capai.
Dengan adanya Standart Kompetensi Dasar Indonesia (SKDI) di harapkan semua lulusan dokter di seluruh Indonesia memiliki skills yang sama dan sesuai dengan standart tenaga medis yang di butuhkan. Tidak hanya sekedar dokter yang mampu memberikan resep obat, perkembangan ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan menuntut kita untuk paham dan ahli dalam pembelajaran Interpersonal Education (IPE). Dokter berkolaborasi dengan tenaga medis lainnya, saling menghargai dan menghormati satu sama lain, saling berkomunikasi saling bekerja sama untuk meningkatkan kualitas kerja dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Dalam makalah ini akan dibahas keseluruhan masalah agar kita mampu memahami hubungan Kurikulum Problem Based Learning dalam proses pencapaian Standart Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Serta pentingnya sebuah kerja sama dalam pembelajaran Interpersonal Education, demi peningkatan kualitas dan etos kerja dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.

1.2.        Rumusan Masalah

Dari topik yang tim penulis angkat dalam karya tulis ini, tim penulis menemukan beberapa masalah yang akan diobservasi, antara lain :
·         Apa perbedaan gaya belajar dan strategi belajar yang diterapkan di SMA dengan yang diterapkan di Fakultas Kedokteran?
·         Bagaimana cara menyesuaikan gaya belajar dan strategi belajar yang baru dalam lingkup perkuliahan di fakultas kedokteran?
·         Apakah Problem Based Learning efektif untuk membantu mahasiswa mencapai kompetensi?
·         Bagaimana penerapan Interprofessional Education?

1.3.        Tujuan

Dengan ditulisnya makalah ini, tim penulis memiliki beberapa  tujuan, yaitu :
·           Tujuan Umum
-      Mengetahui gaya belajar dan stategi belajar yang baik di lingkup perkuliahan terutama di Fakultas Kedokteran.
-      Mengetahui keefektifan penggunaan Problem Based Learning di Fakultas Kedokteran
-      Mengetahui penerapan Interprofessional Education
· Tujuan Khusus
Menyelesaikan tugas Tutorial Blok 1 : Ketrampilan Belajar, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.



1.4.        Manfaat

Manfaat dari disusunnya makalah ini antara lain :
-           Agar dapat menerapkan gaya belajar dan strategi belajar yang baik di lingkup perkuliahan terutama di Fakultas Kedokteran yang nantinya akan mewujudkan pembelajaran yang optimal.
-          Agar dapat menggunakan sistem Problem Based Learning dengan baik dan benar.
-           Agar dapat menerapkan Interprofessional Education dengan baik.
-         Agar dapat mengetahui sistem pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.




BAB 2

LANDASAN TEORETIS


2.1.        Gaya Belajar dan Strategi Belajar

2.1.1.   Gaya Belajar

2.1.1.1.   Pengertian
Skehan (1991,h.288) mendefinisikan gaya pembelajaran sebagai sebuah kecenderungan umum, sukarela atau tidak, untuk melakukan pemrosesan informasi dalam sebuah cara tertentu. Menurut DePorter dan Hernacki (1999), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi.
2.1.1.2.   Pengelompokkan
Secara umum, gaya belajar dapat dikelompokkan berdasarkan :
-      Kemudahan dalam menyerap informasi (perceptual modality).
Pengelompokan berdasarkan perceptual modality didasarkan pada reaksi individu terhadap lingkungan fisik dan cara individu menyerap data secara lebih efisien.
DePorter dan Hernacki (1999) mengemukakan tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality). Ketiga gaya belajar tersebut adalah gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik.
Orang yang memiliki gaya belajar visual, belajar dengan menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham. Ciriciri orang yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya. Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar.
Orang yang memiliki gaya belajar auditory, belajar dengan mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Orang yang memiliki gaya belajar kinestetik, mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Strategi belajar merupakan salah satu teknik yang harus dimiliki oleh individu agar berhasil  dalam belajarnya. Menurut Fellenz sebagaimana dikutip oleh Julaeha (2002), strategi belajar adalah teknik atau keterampilan yang dipilih individu untuk menguasai materi yang dipelajari. Aspek mengenai strategi belajar mahasiswa dapat dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok perilaku, yaitu: kepemilikan referensi, cara mempelajari referensi, belajar kelompok, bimbingan belajar, keteraturan belajar, kegiatan persiapan dalam menghadapi ujian, dan kondisi lingkungan belajar (Nugraheni & Pangaribuan, 2006).
-         Cara memproses informasi (information processing)
Pengelompokan berdasarkan information processing didasarkan pada cara individu merasa, memikirkan, memecahkan masalah, dan mengingat informasi.
-       Karakteristik dasar kepribadian (personality pattern)
Pengelompokannya didasarkan pada perhatian, emosi, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh individu.

2.1.2.   Strategi Belajar

1.2.1.       Pengertian
Strategi belajar dapat digambarkan sebagai sebuah perencanaan yang dibuat sendiri oleh pembelajar secara sadar untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh pembelajar. Tidak setiap strategi pembelajar cocok untuk semua pembelajar.
1.2.2.       Pengelompokkan
Weinstein dan Mayer mengemukakan 8 kategori strategi belajar berdasarkan proses enkoding. Kedelapan strategi belajar tersebut adalah sebagai berikut
-         Basic Rehearsal Strategies
Misalnya mengingat nama atau fakta secara berurutan.
-         Complex Rehearsal Strategies
Misalnya mencatat atau menggarisbawahi materi yang dibahas.
-         Basic Elaboration Strategies
Misalnya membentuk gambaran mental atau kalimat yang menunjukkan hubungan.
·         Complex Elaboration Strategies
Misalnya memparafrase, merangkai, atau menjelaskan hubungan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
·         Basic Organizational Strategies
Misalnya mengelompokkan atau mengurutkan hal-halyang harus dipelajari.
·         Complex Organizational Strategies
Misalnya membuat out line atau mengembangkan diagram atau tabel yang menunjukkan hubungan.
·         Comprehension Monitoring Strategies
Misalnya membuat self- questioning untuk mengecek pemahaman materi yang dipelajari.
·         Affective Strategies
Misalnya belajar di tempat yang sepi untuk menghindari gangguan,atau bersikap santai untuk mengatasi kecemasan mengikuti ujian.

2.2.        Materi Kedokteran

Materi kedokteran adalah sesuatu yg dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan tertentu, spt untuk pedoman atau pegangan, untuk mengajar, memberi ceramah, sedangkan kedokteran adalah segala sesuatu yg berhubungan dng dokter atau pengobatan penyakit. Jadi disimpulkan bahwa materi kedokteran adalah suatu bahan yang digunakan atau yang di perlukan untuk membentuk pengetahuan, psikomotor dan afektif mahasiswa dalam mempelajari tentang kedokteran, pengobatan penyakit,berlatih dalam berkarya berdasarkan ilmu dan leterampilan yang dikuasai dan di terapkan di masyarakat. Materi kedokteran itu meliputi Meliputi materi tentang antomi, fisiologi dan arti klinis sistem tubuh manusia.

2.3.        FKIK Menghafal

2.3.1. Pengertian
FKIK menghafal merupakan salah satu program study yang diadakan oleh Pusat Studi Kedokteran Islam yang bertitik tolak pada isyarat hadist Rasulullah SAW yang nantinya diharapkan dapat membentengi akhlak,memacu semangat belajar dan mencerdaskan otak.
2.3.2. Tujuan
·         Tujuan Umum
-     Mahasiswa , dosen dan karyawan bersama-sama berusaha untuk menghafal AL - Qur'an.
·         Tujuan Khusus
-     Mudah memahami jus'amma.
-     Hafal kumpul ayat-ayat pilihan yang berhubungan dengan kesehatan.
-     Meningkatkan amaliyah shalat fardu dan sunatnya.
2.3.3. Metode
-         Talaqqi (bersama pembimbing)
Guru membaca ayat, murid menirukan tanpa melihat mushaf Al Qur’an, jumlah pengulangan tidak dibatasi.
-         Fardiy (tanpa pembimbing atau menghafal sendiri).
2.3.4. Tahapan
Kegiatan menghafal, meliputi :
-        Saat tutorial
Hafalan 10 menit di awal tutorial (mahasiswa membaca atau menghafal bersama – sama dipimpin oleh salah satu mahasiswa pendamping, dosen tutor menyimak).
-         Di luar kuliah
Mandiri di rumah atau di kampus.
-        Setoran hafalan
Dilakukan 1 kali per minggu kepada pembimbing atau pendamping hafalan, seperti sebelum atau sesudah kuliah, sebelum atau sesudah tutorial, ba’da dzuhur.
-         Evaluasi hafalan
Dilakukan pada blok tertentu sesuai jadwal
2.3.5. Target
-         Hafalan wajib
-     Hafalan 33 surat dalam Juzz ‘Amma
-     Hafalan kumpulan ayat-ayat pilihan yang berhubungan dengan kesehatan.
-        Hafalan sunnah
-     Hafalan 4 surat panjang Juzz ‘Amma
-     Hafalan surat Ar-rahman, Al-Waqiah dan Yasin
-         Hafalan istimewa
-     Surat-surat lain dari beberapa juzz selain Juzz ‘Amma
2.3.6. Tips Menghafal
-        Bekal dasar, meliputi :
-     Niat (kemauan yang kuat).
-     Ikhlas (apa yang sedang kita lakukan adalah betul – betul kemauan diri sendiri bukan paksaan orang lain).
-     Tekun.
-     Kontinyu (konsisten waktu dan target).
-     Sabar.
-     Doa.
-         Bekal penunjang, meliputi :
-     Ciptakan lingkungan yang bernuansa Al Qur’an.
-     Memilih waktu yang tepat untuk menghafal.
-     Berpedoman pada 1 mushaf pegangan.
-     Banyak mengulang hafalan.
-     Mengeraskan bacaan atau suara ketika menghafal.
-     Membiasakan bacaan tartil dan jelas.
-     Tidak berpindah ke ayat atau surat selanjutnya sebelum ayat atau surat yang dihafal benar menancap.
-     Materi hafalan baru tidak buru – buru disetorkan di hadapan guru jika belum dikuasai.

2.4.        Problem Based Learning

2.4.1.        Pengertian
Prof. Howard Barrows dan Kelson yaitu bahwa PBL merupakan kurikulum dan pembelajaran. Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam karier dan kehidupan sehari-hari.
Kemudian Dutch menyatakan bahwa PBL merupakan metode instruksional yang menantang mahasiswa agar “belajar untuk belajar,” bekerja sama dalam kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang nyata. PBL mempersiapkan mahasiswa untuk berpikir kritis dan analitis, dan untuk mencari serta menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa PBL adalah pendekatan pembelajaran yang memfasilitasi terjadinya learner centre dengan menggunakan masalah sebagai pemicu rasa ingin tahu siswa.
2.4.2.        Karakteristik
-        Belajar  dimulai dengan suatu masalah
-        Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata
-        Mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah
-        Memberikan tanggung jawab yang besar kepada pembelajar
-        Menggunakan kelompok kecil
-        Menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja
-        Ada SPICES
S (Student center)                       : Berpusat pada mahasiswa
P (Problem based)                      : Dilatih memecahkan masalah sendiri
I (Integrated)                                : Terintegritas
C (Community based)                : Pendidikan yang lebih berpusat pada komunitas
E (Early clinical exposure)         : Dikenalkan pada kasus-kasus klinik lebih awal
S (Systematic)                               : Diberikan secara sistematik
2.4.3.        Tujuan
Problem Based Learning (PBL)/ Model Pembelajatan Berbasis Masalah dirancang terutama untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir, ke terampilan menyelesaikan masalah, keterampilan intelektualnya, mempelajari peran-peran orang dewasa lainnya melalui berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan, dan menjadi pelajar yang mandiri dan otonomi.
2.4.4.        Metode
Metode The Seven Jump adalah sebuah metode PBL (Programme Based Learning) yang sangat tepat digunakan untuk pembelajaran untuk menganalisa dan memecahkan sebuah kasus. Metode ini merupakan langkah yang dinamis tetapi tetap memerlukan keseimbangan dan keserasian atau movement control agar tujuan belajar dapat tercapai.Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
-         Clarify Unfamiliar Terms
-     Mahasiswa mengidentifikasi kata-kata yang artinya kurang jelas, anggota lainnya mencoba untuk mendefinisikannya.
-     Mahasiswa mengutarakan secara jujur tentang apa yang belum diketahuinya.
-     Kata atau nama yang oleh kelompok masih diperdebatkan ditulis di papan tulis atau flip chart.
-         Define the Problems
-     Problem (masalah), bias berupa istilah, fakta, fenomena, yang oleh grup masih perlu dijelaskan (sesi terbuka pada step 1).
-     Tutor mendorong seluruh anggota kelompok untuk member kontribusi dalam diskusi.
-     Sangat mungkin ada perbedaan perspektif dalam menilai masalah.
-     Membandingkan dan mengelompokkan pendapat akan meluaskan horizon intelektual.
-     Mencatat seluruh issue yang telah dijelaskan oleh kelompok.
-        Brainstorm Possible Hypothesis or Explanation
-     Hipotesis sebagai dasar pemikiran tanpa asumsi benar / salah, atau sebagai langkah awal untuk mencari informasi lebih lanjut.
-     Mahasiswa mencoba membuat formulasi, berdiskusi tentang berbagai kemungkinan yang sesuai dengan masalah.
-     Diskusi tetap dalam tingkat hipotesis, tidak terlalu cepat masuk ke hal-hal rinci.
-     Mencatat seluruh hipotesis yang ada.
-        Arrange Explanations Into Tentative Solutions
-     Mahasiswa mencoba merinci masalah dan membandingkannya dengan hipotesis yang sudah dikembangkan apakah sudah cocok atau belum.
-     Tahap ini merupakan proses aktif dan restrukturisasi pengetahuan yang ada, dan juga merupakan tahap identifikasi perbedaan pemahaman.
-        Defining Learning Objectives
-     Kelompok menyusun beberapa tujuan belajar.
-     Tutor mendorong mahasiswa agar inti tujuan belajar menjadi lebih focus, tidak terlalu lebar atau superficial serta dapat diselesaikan dalam waktu yang tersedia.
-     Beberapa mahasiswa mungkin mempunyai tujuan belajar sendiri (ekstra) karena kebutuhan atau kepentingan mereka sendiri.
Catatan : 1) Setiap mahasiswa harus mempelajari seluruh sasaran belajar yang telah disepakati (tidak dibenarkan membagi tugas). (2) Tutor member tugas pada masing-masing mahasiswa untuk membuat resume sasaran belajar dengan tulisan tangan dan menggunakan tinta biru, sehingga mahasiswa lebih siap berdiskusi di langkah ke-7. Resume dinilai pada saat diskusi kedua (langkah ke-7)
-        Information Gathering : Private Study
-     Dapat berupa kegiatan mencari informasi di buku, internet, computerized literarure search, jurnal, specimen patologis / fisiologis, bertanya kepada pakar, dsb.
-     Hasil kegiatan tersebut dicatat oleh masing-masing anggota kelompok (student’s individual notes), termasuk sumber belajarnya. Usahakan sumber pustaka masing-masing mahasiswa berbeda.
-     Hasil tersebut didiskusikan pada step 7.
-        Synthesize and Test Acquired Informations (Reporting Phase)
-     Masing-masing anggota sudah siap berdiskusi setelah belajar beberapa literatur maupun sumber belajar lainnya.
-     Tujuannnya mensintesis apa yang telah dipelajari, kemudian mendiskusikan kembali.
-     Mahasiswa bias menambahkan, menyanggah, bertanya, komentar terhadap referensi.
-     Kelompok membuat analisis lengkap tentang masalah yang ada dan membuat laporan tertulis.
-     Bila ada kesulitan yang tidak bisa terpecahkan dicatat dan ditanyakan dalam diskusi dengan pakar / narasumber.
2.4.5.        Kekurangan dan Kelebihan
2.4.5.1.  Kekurangan
-         Tutors who can't "teach" - tutor hanya "menyenangi" disiplinilmunya sendiri, sehingga tutor mengalami kesulitan dalam melakukan tugas sebagai fasilitator dan akhirnya mengalami
-         frustrasi.
-         Human resources - jumlah pengajar yang diperlukan dalam proses tutorial lebih banyak daripada sistem konvensional.
-         Other resources - banyak mahasiswa yang ingin mengakses perpustakaan dan komputer dalam waktu yang bersamaan.
-         Role models - mahasiswa dapat terbawa ke dalam situasi konvensional dimana tutor berubah fungsi menjadi pemberi kuliah sebagimana di kelas yang lebih besar.
-         Information overload - mahasiswa dapat mengalami kegamangan sampai seberapa jauh mereka harus melakukan self directed study dan informasi apa saja yang relevan dan bermanfaat.
2.4.5.2.  Kelebihan
-        Student centered - PBL mendorong pembelajaran aktif, memperbaiki pemahaman, retensi, dan pengembangan ketrampilan belajar sepanjang hayat.
-        Generic competencies - PBL memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan ketrampilan umum dan sikap yang diperlukan dalam praktiknya di kemudian hari.
-         Integration - PBL memberi fasilitasi tersusunnya kurikulum inti terpadu
-        Motivation - PBL cukup menyenangkan bagi mahasiswa dan tutor, dan prosesnya membutuhkan keikutsertaan seluruh mahasiswa dalam proses pembelajaran. Lingkungan belajar memberi
-        stimulasi untuk meningkatkan motivasi.
-        Deep learning - PBL mendorong pembelajaran yang lebih mendalam (mahasiswa berinterkasi dengan materi belajar, menghubungkan konsep-konsep dengan aktivitas keseharian, dan meningkatkan pemahaman mereka).
-        Constructivist approach - mahasiswa mengaktifkan prior knowledge dan mengembangkannya pada kerangkapengetahuan konseptual yang sedang dihadapi.
-         Meningkatkan kolaborasi antara berbagai disiplin ( di pendidikan kedokteran: ilmu-ilmu kedokteran dasar dan klinik).
-        Relevansi - relevansi kurikulum difasilitasi oleh struktur pembelajaran mahasiswa yang berdasarkan masalah. PBL meniadakan isi yang tidak relevan bagi mahasiswa.
-        PBL mengurangi beban kurikulum yang berlebihan bagi mahasiswa.

2.5.        Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI)

2.5.1.        Pengertian
Pengertian Standar Kompetensi Dokter Menurut SK Mendiknas No. 045/U/2002 kompetensi adalah 'seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu'.
2.5.2.        Komponen
       Landasan kepribadian
         Penguasaan ilmu dan keterampilan
         Kemampuan berkarya
         Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai
untuk dapat menjalankan materi kedokteran agar sesuai dengan SKDI dan menjadi efektif bagi mahasiswa dengan menggunakan metode PBL ( Problem Based Learning ) yang akan di bahas lebih lanjut di bab selanjutnya.

2.6.        Interprofessional Education (IPE)

2.6.1.        Pengertian
Center for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE) menyatakan bahwa "Interprofessional Education terjadi ketika dua atau lebih profesi belajar dengan, dari, dan tentang satu sama lain untuk meningkatkan kolaborasi dan kualitas perawatan.” Menurut WHO, IPE merupakan proses dimana sekelompok mahasiswa atau tenaga kesehatan dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda belajar bersama-sama selama periode pendidikan tertentu, untuk berkolaborasi dalam upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kesehatan (CIHC, 2007).
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa IPE melibatkan pendidik dan peserta didik dari dua atau lebih profesi kesehatan dan disiplin ilmu terkait yang berdiskusi bersama mengenai konsep pelayanan kesehatan dan upaya meningkatkan kualitas pelayanan demi kepentingan masyarakat.
2.6.2.        Karakteristik
Karakteristik khas Interprofessional education menurut Freeth & Reeves (2004) adalah:
         Mahasiswa paham akan prinsip dasar, konsep dan konstribusi dari setiap bidang profesi.
         Familiar dengan bahasa atau istilah serta pola pikir dari berbagai jenis profesi.
         Mahasiswa harus sudah menguasai dasar keilmuan dan ketrampilan spesifik masing-masing profesi.
         Mahasiswa harus menguasai konsep tentang kolaborasi.

2.6.3.        Tujuan
Tujuan utama program interprofessional education ini adalah terjadinya teamwork yang saling melengkapi antara satu profesi dengan profesi lainnya sehingga dapat menutup lubang permasalahan pasien. Collaborative practice pun akan memberikan dampak positif bagi penyembuhan pasien sebagai salah satu goal dari IPE.
2.6.4.        Kekurangan dan Kelebihan
2.6.5.1.  Kekurangan
         Mengenai efisiensi waktu, yang dimaksudkan disini adalah efisiensi waktu untuk bertemu. Setiap orang mempunyai kesibukan masing-masing sehingga untuk melakukan komunikasi tatap muka diperlukan waktu yang tepat agar keduanya dapat bertemu dan melakukan komunikasi interpersonal tatap muka.
         Tidak dapat berkomunikasi dengan orang yang ada di tempat yang berbeda karena jangkauan tatap muka ini sangat terbatas sehingga memerlukan media untuk menghubungkan antara satu sama lain agar dapat berkomunikasi. Jadi dalam tatap muka ini yang menjadi kendala adalah waktu dan jangkauannya yang terbatas.
         Seringkali komunikan tidak saling memahami maksud pesan atau informasi dari lawan bicaranya. Hal ini disebabkan beberapa masalah antara:
-     
2.6.5.2.  Kelebihan
         Feedback antara komunikator dan komunikan akan diterima secara cepat dan dapat melihat pula reaksi yang menjadi komunikasi non verbal dari komunikan itu sendiri.
         Terdapat kedekatan emosional karena intensitas dalam berkomunikasi.
         Bisa mengurangi noise dalam berkomunikasi karena terjadi secara langsung dan bila ada  gangguan langsung bisa dikonfirmasi.
         Dapat menyampaikan suatu pesan dengan hanya komunikasi non verbal tanpa komunikasi verbal.
         Tidak memerlukan biaya dalam melakukannya karena dilakukan secara langsung dan continue , sehingga mengobrol dalam jangka waktu yang lama tidak mengeluarkan biaya.
         Emosi atau perasaan antara komunikator dan komunikan lebih terlibat dan mengurangi kebohongan karena mimik wajah akan terlihat langsung oleh lawan bicaranya.




BAB 3

METODE PENELITIAN


   Dalam penulisan makalah ini, tim penulis menggunakan beberapa metode penelitian yang sering digunakan antara lain metode deskriptif, metode komparatif dan metode pustaka. Metode deskriptif (menggambarkan) adalah metode penelitian yang memberikan gambaran tentang gejala atau keadaan tertentu sesuai apa adanya tanpa ada manipulasi data. 
Penelitian yang tim penulis lakukan sesuai dengan prosedur berikut :
Tim penulis dituntut untuk menemukan masalah yang ada disekitar penulis untuk diangkat menjadi topik dalam makalah. Dalam karya tulis ini tim penulis menentukan masalah berdasarkan skenario Plenary Discussion yang telah disediakan.
Makalah ini tim penulis jelaskan sesuai dengan kenyataan yang ada. Penggunaan sistem Problem Based Learningdan program FKIK Menghafal menuai masalah baru, yaitu pengertian dan seluk beluknya. Sehingga dalam makalah ini, tim penulis berusaha mencari simpulan yang tepat dari hal tersebut.
3.3.1.        Sumber data primer,
Yaitu data yang langsung dapat diperoleh dari tim penulis sendiri, sesuai dengan pengalaman tim penulis yang telah mengikuti dan atau melaksanakan sistem Problem Based Learning dan program FKIK Menghafal.
3.3.2.        Sumber data sekunder
Yaitu data yang diperoleh dari literatur-literatur atau penelitian-penelitian terdahulu dan sumber bacaan lainnya, yang pada hakekatnya mempunyai relevansi dengan tema penelitian ini.
Tim penulis menggunakan seven jumps untuk mengumpulkan data yang telah diperoleh dan menelaahnya untuk kemudian dapat dikatakan sebagai hasil kerja kelompok tim tutorial.
    Cara analisis data yang digunakan oleh tim penulis adalah cara deskriptif (menggambarkan) yaitu gaya penulisan dengan cara menerangkan suatu masalah atau gejala dengan memberikan deskripsi secara kasat mata atau deskripsi fisik tanpa mencari hubungan sebab-akibat antara hal-hal yang digambarkan.
Tim penulis membuat simpulan dengan cara mempelajari setiap pokok bahasan kemudian menelaah kembali hal tersebut untuk membuat suatu kesimpulan.


BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


-         Jadwal belajar di SMA biasanya penuh dan telah ditentukan oleh pihak kurikulum sekolah.
Siswa tidak dapat memilih pelajaran sesuka hati dan bersekolah dengan pola datang pagi pulang sore. Sedangkan di universitas, mahasiswa dapat memilih mata kuliah yang ia inginkan sesuai dengan kewajiban dan kebutuhannya. Karena mata kuliah yang dipilih sendiri ini, maka jadwal pun menjadi tidak teratur. Jadwal masuk manusia menjadi tergantung pada mata kuliah yang diambil. Terkadang seorang mahasiswa dapat tidak masuk di pagi hari, dan baru mendapat pelajaran di sore harinya, bahkan kadang tidak ada mata kuliah sama sekali dalam satu hari.
-        Saat di SMA biasanya siswa lebih pasif.
Pelajaran terpusat dari guru dan siswa biasanya hanya menerima mentah-mentah pelajaran tersebut dari guru. Di SMA pun, kerap kali biasanya guru lah yang mengejar-ngejar murid jika ada ketidakberesan dalam belajar si siswa. Namun, di universitas, mahasiswa dituntut lebih mandiri. Dalam belajar, mahasiswa harus lebih aktif dan berusaha mencari sendiri hal-hal yang dibutuhkannya untuk belajar. Mahasiswa harus banyak berinisiatif dan kreatif dalam belajar. Mahasiswa tidak bisa bergantung pada dosen dan mahasiswa lah yang harus mengejar dosen jika ada keperluan. Karena dosen tidak akan mau repot-repot mencari mahasiswa bermasalah namun tidak berinisiatif untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
-         Gaya mengajar guru atau dosen.
Di SMA, biasanya gaya mengajar para guru bersifat homogen. Seperti ‘itu-itu’ saja. Masuk ke kelas, menjelaskan panjang lebar, memberi catatan, tugas dan ulangan. Namun, di bangku kuliah gaya mengajar dosen sangat berbeda dengan guru di SMA. Perbedaan karakter antar dosen terlihat lebih jelas dibandingkan antar guru SMA. Gaya mengajar tiap dosen cenderung berbeda-beda. Misalnya, ada dosen yang tidak masalah kalau ada mahasiswa yang terlambat. Namun, ada juga dosen yang cuek cuek saja. Contoh lain, misalnya ada dosen yang menjelaskan materi dengan sangat rinci bahkan terlalu luas, tetapi ada juga dosen yang menjelaskan dengan singkat dan hanya akan menjelaskan lebih detail jika ditanya oleh mahasiswanya.
-         SMA siswa seringkali dimarahi atau bahkan dihukum karena terlambat, tidak mencatat, tidak membuat tugas, sering bolos, atau bahkan tidak ikut ujian.
Hal ini sangat berbeda dengan keadaan di universitas yang cenderung bebas. Saat di universitas, tidak akan ada yang memarahi jika kita tidak mengerjakan tugas, atau bahkan jika tidak ikut ujian. Semuanya tergantung pada diri kita. Dosen hanya melaksanakan kewajibannya sebagai pengajar dan tidak akan mengingatkan kita untuk melakukan ini itu. Namun, kebebasan ini bukanlah kesempatan untuk bermain-main. Justru ini merupakan tantangan untuk dapat mengatur diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Seseorang yang berkuliah harus siap secara mental agar tidak terjerumus ke dalam kebebasan yang ada.
-         Buku adalah teman terbaikmu, tapi tidak pada saat ujian.
Kenapa? Karena terkadang materi yang diujikan tidak ada di buku meski kamu membacanya dan merangkum isinya sampai tengah malam. Perluas pengetahuanmu dengan membaca buku, tapi jangan mengandalkan buku teks saat ujian. Andalkan otakmu dan fakta yang kamu kumpulkan.
-        Dosen tidak pernah salah.
Kata-kata dosen adalah mutlak. Kamu tidak bisa melawannya. Melawannya hanya akan berdampak pada IPK-mu dan mungkin seluruh kehidupan akademikmu. Jadi, saat mereka mengajar, perhatikan ceramah mereka, meskipun sangat membosankan. Oh ya, apa yang ada di ceramah dosen kadang keluar dalam tes, jadi catatlah! Jadilah siswa aktif yang suka bertanya.
-        Belajar kapanpun, dimanapun.
Berbeda dengan bangku SMA, di mana kita bisa belajar semalam menjelang ujian dan tetap pintar, di bangku kuliah kamu dituntut untuk belajar sendiri kapanpun kamu sempat. Biasakan membaca bab selanjutnya sebelum kuliah dimulai. Percayalah, saat kamu membaca buku teks anak kuliahan, aku percaya kamu tidak akan bisa mengertinya dalam waktu semalam. Hal ini juga membantumu di kelas, karena dosen suka siswa yang aktif bertanya tentang materi.
-         Mengerjakan tugas secara bertahap membantu kesehatanmu.
Tugas banyak sudah menjadi ciri umum mahasiswa. Sayangi dirimu dengan cara membuat skala prioritas dan biasakan mencatat tugas di buku agenda atau sticky notes supaya pada malam ini, kamu tidak perlu mengerjakan paper sepanjang 1000 kata yang dikumpul besok pagi. Dengan begitu, kamu tidak perlu begadang semalaman dan menyiksa dirimu. Beda dengan SMA, di mana kamu masih bisa lolos dengan mengerjakan PR Biologi saat pagi hari sebelum kelas dimulai dengan menyalin Punya teman -__-
-        Kau adalah kau.
Di bangku kuliah, kamu benar-benar bebas menentukan pilihan. Apakah kamu mau belajar, terserah kamu. Apakah kamu mau menjadi residen gamenet, terserah kamu. Apakah kamu ingin IPK tinggi, terserahmu. Di sisi positifnya, tidak ada lagi guru yang akan mencukur rambutmu saat sudah gondrong, tidak ada lagi baju seragam, dan tidak ada lagi ketentuan soal pakaian. Di sisi negatifnya, bagi kalian yang hidup di “penjara”, mungkin kebebasan yang tiba-tiba ini bisa berefek buruk.

BAB 5

PENUTUP

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah tim penulis uraikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa :
-         Perlu penyesuaian antara gaya dan strategi belajar yang diterapkan di SMA dengan yang diteraokan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta karena keduanya memang jauh berbeda.
-         Problem-Based Learning efektif dilakukan dalam kelompok kecil untuk mencapai pengalaman belajar yang optimal bagi seluruh anggota kelompok jika dibandingkan dengan metode konvensional.
-         program interprofessional education memungkinkan terjadinya teamwork yang saling melengkapi antara satu profesi dengan profesi lainnya sehingga dapat menutup lubang permasalahan pasien.
Setelah menganalisis tentang topik Skenario Plenary Discussion, tim penulis akan memberikan beberapa saran yang tim tunjukkan untuk mahasiswa sebagai lembaga yang menyelenggarakan Ujian Nasional, antara lain :
1.       Mahasiswa tersebut harus menyesuaikan diri dengan gaya dan strategi belajar yang baru di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan beberapa strategi, antara lain dengan mengatur jadwal, mengatur suasana, membiasakan membaca sekilas sebelum belajar dan mengusir stress.
2.       Mahasiswa tersebut harus berlatih untuk memanajemen waktu dengan baik agar mahasiswa dapat mengikuti sistem pembelajaran yang didalamnya juga terkandung materi kedokteran dan FKIK Menghafal dengan baik dan lancar.
3.       Mahasiswa haruslah menerapkan pembelajaran Interprofessional Education dengan baik dan benar sesuai dengan tujuan awalnya.
4.       Mahasiswa harus aktif mencari tahu tentang sistem pembelajaran tersebut dari berbagai sumber yang valid, relevan, dan terkini


 semoga bisa membantu mengarahkan adik-adik yg bingung untuk membuat tugas proposalnya ya :)
wassalamualaikum :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar