Assalamualaikum...
hai hai....nih via share contoh makalah yg terpilih untuk plenary discussion blok 1 thn 2013 :D
semoga bermanfaat yahhh
hai hai....nih via share contoh makalah yg terpilih untuk plenary discussion blok 1 thn 2013 :D
semoga bermanfaat yahhh
TUGAS TUTORIAL
MAKALAH
MOTTO
Teruslah bermimpi, karena Tuhan akan merangkul semua mimpimu.
(Andrea Hirata)
Jika kamu punya keinginan yang kuat, seluruh alam semesta akan
bersatu membantumu mewujudkan keinginan itu. (Paulo Coelho)
PRAKATA
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur tim penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
atas segala limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga tim penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “SKENARIO PLENARY DISCUSSION” tepat pada waktunya.
Maksud penulisan makalah ini adalah guna memenuhi salah satu
tugas tugas Tutorial Blok 1 :
Ketrampilan Belajar, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran,
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta..
Dalam penulisan karya ilmiah ini tim penulis banyak memperoleh
bantuan baik dukungan moriil maupun materiil dari berbagai pihak. Kepada mereka
semua yang telah membantu dalam penulisan makalah ini, yang tidak bisa penulis
sebutkan satu-persatu, semoga amal baik bapak, ibu dan saudara mendapat imbalan
dan balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Tim penulis menyadari bahwa penulisan
makalah ini belum sempurna. Sebagaimanahasilkaryamanusia yang takluputdarikekurangandankesempurnaantim penulismengharapkankritikdan
saran yang membangun
dari para pembaca demi kesempurnaan penulisan makalah di masa mendatang.
Akhirnya, tim penulis berharap agar
karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi para pembaca
baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Amin.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Yogyakarta,
29 September 2013
Tim
Penulis
DAFTAR ISIBAB 1
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang Masalah
Ilmu
pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai
dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Dalam
memperbaiki kualitas pendidikan dapat ditunjang dengan sistem pendidikan yang
mapan yang memungkinkan kita berpikir
lebih kritis, kreatif, dan lebih produktif.
Memasuki
jenjang perkuliahan khususnya di Pendidikan Dokter Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta, Mahasiswa kedokteran akan dituntut menjadi dokter yang aktif,
inovatif, serta dapat menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat. Maka
diperlukan kurikulum yang dapat merangsang mahasiswa kedokteran untuk berpikir
secara kritis dan analitis. Dimana sistem pembelajarannya adalah student centered yaitu terpusat pada
mahasiswa itu sendiri. Dalam proses ini, adanya kurikulum Problem Based Learning yang memudahkan kita dalam menuju
aspek-aspek kompetensi yang harus di capai.
Dengan
adanya Standart Kompetensi Dasar Indonesia (SKDI) di harapkan semua lulusan
dokter di seluruh Indonesia memiliki skills yang sama dan sesuai dengan
standart tenaga medis yang di butuhkan. Tidak hanya sekedar dokter yang mampu
memberikan resep obat, perkembangan ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan menuntut
kita untuk paham dan ahli dalam pembelajaran Interpersonal Education (IPE). Dokter berkolaborasi dengan tenaga
medis lainnya, saling menghargai dan menghormati satu sama lain, saling
berkomunikasi saling bekerja sama untuk meningkatkan kualitas kerja dalam
memberikan pelayanan kesehatan.
Dalam
makalah ini akan dibahas keseluruhan masalah agar kita mampu memahami hubungan
Kurikulum Problem Based Learning dalam proses pencapaian Standart Kompetensi
Dokter Indonesia (SKDI). Serta pentingnya sebuah kerja sama dalam pembelajaran Interpersonal Education, demi
peningkatan kualitas dan etos kerja dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.
1.2.
Rumusan
Masalah
Dari topik yang tim penulis angkat
dalam karya tulis ini, tim penulis menemukan beberapa masalah yang akan
diobservasi, antara lain :
·
Apa
perbedaan gaya belajar dan strategi belajar yang diterapkan di SMA dengan yang
diterapkan di Fakultas Kedokteran?
·
Bagaimana
cara menyesuaikan gaya belajar dan strategi belajar yang baru dalam lingkup
perkuliahan di fakultas kedokteran?
·
Apakah
Problem Based Learning efektif untuk
membantu mahasiswa mencapai kompetensi?
·
Bagaimana
penerapan Interprofessional Education?
1.3.
Tujuan
Dengan ditulisnya makalah ini, tim
penulis memiliki beberapa tujuan, yaitu
:
·
Tujuan
Umum
-
Mengetahui
gaya belajar dan stategi belajar yang baik di lingkup perkuliahan terutama di
Fakultas Kedokteran.
-
Mengetahui
keefektifan penggunaan Problem Based
Learning di Fakultas Kedokteran
-
Mengetahui
penerapan Interprofessional Education
·
Tujuan
Khusus
Menyelesaikan tugas Tutorial Blok 1 :
Ketrampilan Belajar, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran,
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
1.4.
Manfaat
Manfaat dari disusunnya makalah ini
antara lain :
- Agar
dapat menerapkan gaya belajar dan strategi belajar yang baik di lingkup
perkuliahan terutama di Fakultas Kedokteran yang nantinya akan mewujudkan
pembelajaran yang optimal.
- Agar
dapat menggunakan sistem Problem Based
Learning dengan baik dan benar.
- Agar
dapat menerapkan Interprofessional
Education dengan baik.
- Agar
dapat mengetahui sistem pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
BAB 2
LANDASAN TEORETIS
2.1.
Gaya
Belajar dan Strategi Belajar
2.1.1.
Gaya
Belajar
2.1.1.1. Pengertian
Skehan
(1991,h.288) mendefinisikan gaya pembelajaran sebagai sebuah kecenderungan
umum, sukarela atau tidak, untuk melakukan pemrosesan informasi dalam sebuah
cara tertentu. Menurut DePorter dan Hernacki (1999), gaya belajar adalah
kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi.
2.1.1.2. Pengelompokkan
Secara
umum, gaya belajar dapat dikelompokkan berdasarkan :
- Kemudahan
dalam menyerap informasi (perceptual modality).
Pengelompokan
berdasarkan perceptual modality didasarkan pada reaksi individu terhadap
lingkungan fisik dan cara individu menyerap data secara lebih efisien.
DePorter
dan Hernacki (1999) mengemukakan tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas
yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality). Ketiga
gaya belajar tersebut adalah gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik.
Orang
yang memiliki gaya belajar visual, belajar dengan menitikberatkan ketajaman
penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu
agar mereka paham. Ciriciri orang yang memiliki gaya belajar visual adalah
kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual
sebelum mereka memahaminya. Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap
pelajaran lewat materi bergambar.
Orang
yang memiliki gaya belajar auditory, belajar dengan mengandalkan pendengaran
untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini
benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi
atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi
tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang
memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam
bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Orang
yang memiliki gaya belajar kinestetik, mengharuskan individu yang bersangkutan
menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya.
Strategi belajar merupakan salah satu teknik yang harus dimiliki oleh individu
agar berhasil dalam belajarnya. Menurut
Fellenz sebagaimana dikutip oleh Julaeha (2002), strategi belajar adalah teknik
atau keterampilan yang dipilih individu untuk menguasai materi yang dipelajari.
Aspek mengenai strategi belajar mahasiswa dapat dikelompokkan ke dalam tujuh
kelompok perilaku, yaitu: kepemilikan referensi, cara mempelajari referensi,
belajar kelompok, bimbingan belajar, keteraturan belajar, kegiatan persiapan
dalam menghadapi ujian, dan kondisi lingkungan belajar (Nugraheni &
Pangaribuan, 2006).
- Cara
memproses informasi (information processing)
Pengelompokan
berdasarkan information processing didasarkan pada cara individu merasa,
memikirkan, memecahkan masalah, dan mengingat informasi.
- Karakteristik
dasar kepribadian (personality pattern)
Pengelompokannya
didasarkan pada perhatian, emosi, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh individu.
2.1.2.
Strategi
Belajar
1.2.1. Pengertian
Strategi
belajar dapat digambarkan sebagai sebuah perencanaan yang dibuat sendiri oleh
pembelajar secara sadar untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh
pembelajar. Tidak setiap strategi pembelajar cocok untuk semua pembelajar.
1.2.2. Pengelompokkan
Weinstein dan Mayer mengemukakan 8 kategori strategi belajar
berdasarkan proses enkoding. Kedelapan strategi belajar tersebut adalah sebagai
berikut
- Basic Rehearsal Strategies
Misalnya mengingat nama atau fakta
secara berurutan.
- Complex Rehearsal Strategies
Misalnya mencatat atau menggarisbawahi
materi yang dibahas.
- Basic Elaboration Strategies
Misalnya membentuk gambaran mental
atau kalimat yang menunjukkan hubungan.
·
Complex Elaboration Strategies
Misalnya memparafrase, merangkai, atau
menjelaskan hubungan informasi baru dengan pengetahuan yang telah
dimiliki.
·
Basic Organizational Strategies
Misalnya mengelompokkan atau
mengurutkan hal-halyang harus dipelajari.
·
Complex Organizational Strategies
Misalnya membuat out line atau
mengembangkan diagram atau tabel yang menunjukkan hubungan.
·
Comprehension Monitoring Strategies
Misalnya membuat self- questioning
untuk mengecek pemahaman materi yang dipelajari.
·
Affective Strategies
Misalnya belajar di tempat yang sepi
untuk menghindari gangguan,atau bersikap santai untuk mengatasi kecemasan
mengikuti ujian.
2.2.
Materi
Kedokteran
Materi
kedokteran adalah sesuatu yg dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan
tertentu, spt untuk pedoman atau pegangan, untuk mengajar, memberi ceramah,
sedangkan kedokteran adalah segala sesuatu yg berhubungan dng dokter atau
pengobatan penyakit. Jadi disimpulkan bahwa materi kedokteran adalah suatu
bahan yang digunakan atau yang di perlukan untuk membentuk pengetahuan,
psikomotor dan afektif mahasiswa dalam mempelajari tentang kedokteran,
pengobatan penyakit,berlatih dalam berkarya berdasarkan ilmu dan leterampilan
yang dikuasai dan di terapkan di masyarakat. Materi kedokteran itu meliputi
Meliputi materi tentang antomi, fisiologi dan arti klinis sistem tubuh manusia.
2.3.
FKIK
Menghafal
2.3.1.
Pengertian
FKIK menghafal merupakan salah satu program
study yang diadakan oleh Pusat Studi Kedokteran Islam yang bertitik tolak pada
isyarat hadist Rasulullah SAW yang nantinya diharapkan dapat membentengi
akhlak,memacu semangat belajar dan mencerdaskan otak.
2.3.2.
Tujuan
·
Tujuan Umum
-
Mahasiswa , dosen dan karyawan bersama-sama
berusaha untuk menghafal AL - Qur'an.
·
Tujuan Khusus
-
Mudah memahami jus'amma.
-
Hafal kumpul ayat-ayat pilihan yang berhubungan
dengan kesehatan.
-
Meningkatkan amaliyah shalat fardu dan sunatnya.
2.3.3.
Metode
- Talaqqi
(bersama pembimbing)
Guru
membaca ayat, murid menirukan tanpa melihat mushaf Al Qur’an, jumlah
pengulangan tidak dibatasi.
- Fardiy
(tanpa pembimbing atau menghafal sendiri).
2.3.4.
Tahapan
Kegiatan
menghafal, meliputi :
- Saat
tutorial
Hafalan 10 menit di awal tutorial
(mahasiswa membaca atau menghafal bersama – sama dipimpin oleh salah satu
mahasiswa pendamping, dosen tutor menyimak).
- Di
luar kuliah
Mandiri di rumah atau di kampus.
- Setoran
hafalan
Dilakukan 1 kali per minggu kepada
pembimbing atau pendamping hafalan, seperti sebelum atau sesudah kuliah,
sebelum atau sesudah tutorial, ba’da dzuhur.
- Evaluasi
hafalan
Dilakukan pada blok tertentu sesuai
jadwal
2.3.5.
Target
- Hafalan
wajib
-
Hafalan
33 surat dalam Juzz ‘Amma
-
Hafalan
kumpulan ayat-ayat pilihan yang berhubungan dengan kesehatan.
- Hafalan
sunnah
-
Hafalan
4 surat panjang Juzz ‘Amma
-
Hafalan
surat Ar-rahman, Al-Waqiah dan Yasin
- Hafalan
istimewa
-
Surat-surat
lain dari beberapa juzz selain Juzz ‘Amma
2.3.6.
Tips
Menghafal
- Bekal
dasar, meliputi :
-
Niat
(kemauan yang kuat).
-
Ikhlas
(apa yang sedang kita lakukan adalah betul – betul kemauan diri sendiri bukan
paksaan orang lain).
-
Tekun.
-
Kontinyu
(konsisten waktu dan target).
-
Sabar.
-
Doa.
- Bekal
penunjang, meliputi :
-
Ciptakan
lingkungan yang bernuansa Al Qur’an.
-
Memilih
waktu yang tepat untuk menghafal.
-
Berpedoman
pada 1 mushaf pegangan.
-
Banyak
mengulang hafalan.
-
Mengeraskan
bacaan atau suara ketika menghafal.
-
Membiasakan
bacaan tartil dan jelas.
-
Tidak
berpindah ke ayat atau surat selanjutnya sebelum ayat atau surat yang dihafal
benar menancap.
-
Materi
hafalan baru tidak buru – buru disetorkan di hadapan guru jika belum dikuasai.
2.4.
Problem Based Learning
2.4.1.
Pengertian
Prof.
Howard Barrows dan Kelson yaitu bahwa PBL merupakan kurikulum dan pembelajaran.
Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut mahasiswa
mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan
masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan
berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang
sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti
diperlukan dalam karier dan kehidupan sehari-hari.
Kemudian
Dutch menyatakan bahwa PBL merupakan metode instruksional yang menantang
mahasiswa agar “belajar untuk belajar,” bekerja sama dalam kelompok untuk
mencari solusi bagi masalah yang nyata. PBL mempersiapkan mahasiswa untuk
berpikir kritis dan analitis, dan untuk mencari serta menggunakan sumber
pembelajaran yang sesuai.
Berdasarkan
pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa PBL adalah pendekatan
pembelajaran yang memfasilitasi terjadinya learner
centre dengan menggunakan masalah sebagai pemicu rasa ingin tahu siswa.
2.4.2.
Karakteristik
- Belajar dimulai dengan suatu masalah
- Memastikan
bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata
- Mengorganisasikan
pelajaran di seputar masalah
- Memberikan
tanggung jawab yang besar kepada pembelajar
- Menggunakan
kelompok kecil
- Menuntut
siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu
produk atau kinerja
- Ada SPICES
S (Student center) : Berpusat pada mahasiswa
P (Problem based) : Dilatih memecahkan masalah sendiri
I (Integrated) : Terintegritas
C (Community based) : Pendidikan yang lebih berpusat pada komunitas
E (Early clinical exposure) : Dikenalkan pada kasus-kasus klinik
lebih awal
S (Systematic) : Diberikan secara sistematik
2.4.3.
Tujuan
Problem
Based Learning (PBL)/
Model Pembelajatan Berbasis Masalah dirancang terutama untuk membantu siswa
mengembangkan keterampilan berpikir, ke terampilan menyelesaikan masalah,
keterampilan intelektualnya, mempelajari peran-peran orang dewasa lainnya
melalui berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan, dan menjadi
pelajar yang mandiri dan otonomi.
2.4.4.
Metode
Metode
The Seven Jump adalah sebuah metode
PBL (Programme Based Learning) yang
sangat tepat digunakan untuk pembelajaran untuk menganalisa dan memecahkan
sebuah kasus. Metode ini merupakan langkah yang dinamis tetapi tetap memerlukan
keseimbangan dan keserasian atau movement control agar tujuan belajar dapat
tercapai.Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
- Clarify Unfamiliar Terms
-
Mahasiswa
mengidentifikasi kata-kata yang artinya kurang jelas, anggota lainnya mencoba
untuk mendefinisikannya.
-
Mahasiswa
mengutarakan secara jujur tentang apa yang belum diketahuinya.
-
Kata
atau nama yang oleh kelompok masih diperdebatkan ditulis di papan tulis atau
flip chart.
- Define the Problems
-
Problem
(masalah), bias berupa istilah, fakta, fenomena, yang oleh grup masih perlu
dijelaskan (sesi terbuka pada step 1).
-
Tutor
mendorong seluruh anggota kelompok untuk member kontribusi dalam diskusi.
-
Sangat
mungkin ada perbedaan perspektif dalam menilai masalah.
-
Membandingkan
dan mengelompokkan pendapat akan meluaskan horizon intelektual.
-
Mencatat
seluruh issue yang telah dijelaskan oleh kelompok.
- Brainstorm Possible Hypothesis or
Explanation
-
Hipotesis
sebagai dasar pemikiran tanpa asumsi benar / salah, atau sebagai langkah awal
untuk mencari informasi lebih lanjut.
-
Mahasiswa
mencoba membuat formulasi, berdiskusi tentang berbagai kemungkinan yang sesuai
dengan masalah.
-
Diskusi
tetap dalam tingkat hipotesis, tidak terlalu cepat masuk ke hal-hal rinci.
-
Mencatat
seluruh hipotesis yang ada.
- Arrange Explanations Into Tentative
Solutions
-
Mahasiswa
mencoba merinci masalah dan membandingkannya dengan hipotesis yang sudah
dikembangkan apakah sudah cocok atau belum.
-
Tahap
ini merupakan proses aktif dan restrukturisasi pengetahuan yang ada, dan juga
merupakan tahap identifikasi perbedaan pemahaman.
- Defining Learning Objectives
-
Kelompok
menyusun beberapa tujuan belajar.
-
Tutor
mendorong mahasiswa agar inti tujuan belajar menjadi lebih focus, tidak terlalu
lebar atau superficial serta dapat diselesaikan dalam waktu yang tersedia.
-
Beberapa
mahasiswa mungkin mempunyai tujuan belajar sendiri (ekstra) karena kebutuhan
atau kepentingan mereka sendiri.
Catatan : 1) Setiap mahasiswa harus mempelajari seluruh sasaran
belajar yang telah disepakati (tidak dibenarkan membagi tugas). (2) Tutor
member tugas pada masing-masing mahasiswa untuk membuat resume sasaran belajar
dengan tulisan tangan dan menggunakan tinta biru, sehingga mahasiswa lebih siap
berdiskusi di langkah ke-7. Resume dinilai pada saat diskusi kedua (langkah
ke-7)
- Information Gathering : Private Study
-
Dapat
berupa kegiatan mencari informasi di buku, internet, computerized literarure
search, jurnal, specimen patologis / fisiologis, bertanya kepada pakar, dsb.
-
Hasil
kegiatan tersebut dicatat oleh masing-masing anggota kelompok (student’s
individual notes), termasuk sumber belajarnya. Usahakan sumber pustaka
masing-masing mahasiswa berbeda.
-
Hasil
tersebut didiskusikan pada step 7.
- Synthesize and Test Acquired
Informations (Reporting Phase)
-
Masing-masing
anggota sudah siap berdiskusi setelah belajar beberapa literatur maupun sumber
belajar lainnya.
-
Tujuannnya
mensintesis apa yang telah dipelajari, kemudian mendiskusikan kembali.
-
Mahasiswa
bias menambahkan, menyanggah, bertanya, komentar terhadap referensi.
-
Kelompok
membuat analisis lengkap tentang masalah yang ada dan membuat laporan tertulis.
-
Bila
ada kesulitan yang tidak bisa terpecahkan dicatat dan ditanyakan dalam diskusi
dengan pakar / narasumber.
2.4.5.
Kekurangan
dan Kelebihan
2.4.5.1.
Kekurangan
- Tutors who can't "teach" - tutor hanya "menyenangi"
disiplinilmunya sendiri, sehingga tutor mengalami kesulitan dalam melakukan
tugas sebagai fasilitator dan akhirnya mengalami
- frustrasi.
- Human resources - jumlah pengajar yang diperlukan dalam proses tutorial lebih
banyak daripada sistem konvensional.
- Other resources - banyak mahasiswa yang ingin mengakses perpustakaan dan komputer
dalam waktu yang bersamaan.
- Role models - mahasiswa dapat terbawa ke dalam situasi konvensional dimana
tutor berubah fungsi menjadi pemberi kuliah sebagimana di kelas yang lebih
besar.
- Information overload - mahasiswa dapat mengalami kegamangan sampai seberapa jauh mereka
harus melakukan self directed study dan informasi apa saja yang relevan
dan bermanfaat.
2.4.5.2.
Kelebihan
- Student centered - PBL mendorong pembelajaran aktif, memperbaiki pemahaman,
retensi, dan pengembangan ketrampilan belajar sepanjang hayat.
- Generic competencies - PBL memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan
ketrampilan umum dan sikap yang diperlukan dalam praktiknya di kemudian hari.
- Integration - PBL memberi fasilitasi tersusunnya kurikulum inti terpadu
- Motivation - PBL cukup menyenangkan bagi mahasiswa dan tutor, dan prosesnya
membutuhkan keikutsertaan seluruh mahasiswa dalam proses pembelajaran.
Lingkungan belajar memberi
- stimulasi
untuk meningkatkan motivasi.
- Deep learning - PBL mendorong pembelajaran yang lebih mendalam (mahasiswa
berinterkasi dengan materi belajar, menghubungkan konsep-konsep dengan
aktivitas keseharian, dan meningkatkan pemahaman mereka).
- Constructivist approach - mahasiswa mengaktifkan prior knowledge dan
mengembangkannya pada kerangkapengetahuan konseptual yang sedang dihadapi.
- Meningkatkan
kolaborasi antara berbagai disiplin ( di pendidikan kedokteran: ilmu-ilmu
kedokteran dasar dan klinik).
- Relevansi
- relevansi kurikulum difasilitasi oleh struktur pembelajaran mahasiswa yang
berdasarkan masalah. PBL meniadakan isi yang tidak relevan bagi mahasiswa.
- PBL
mengurangi beban kurikulum yang berlebihan bagi mahasiswa.
2.5.
Standar
Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI)
2.5.1.
Pengertian
Pengertian
Standar Kompetensi Dokter Menurut SK Mendiknas No. 045/U/2002 kompetensi adalah
'seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang
sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan
tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu'.
2.5.2.
Komponen
Landasan
kepribadian
Penguasaan
ilmu dan keterampilan
Kemampuan
berkarya
Sikap
dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan
keterampilan yang dikuasai
untuk dapat menjalankan materi kedokteran agar sesuai dengan SKDI dan
menjadi efektif bagi mahasiswa dengan menggunakan metode PBL ( Problem Based
Learning ) yang akan di bahas lebih lanjut di bab selanjutnya.
2.6.
Interprofessional Education (IPE)
2.6.1.
Pengertian
Center
for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE) menyatakan bahwa
"Interprofessional Education terjadi ketika dua atau lebih profesi belajar
dengan, dari, dan tentang satu sama lain untuk meningkatkan kolaborasi dan
kualitas perawatan.” Menurut WHO, IPE merupakan proses dimana sekelompok
mahasiswa atau tenaga kesehatan dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda
belajar bersama-sama selama periode pendidikan tertentu, untuk berkolaborasi
dalam upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan hal-hal lainnya
yang berhubungan dengan kesehatan (CIHC, 2007).
Berdasarkan
definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa IPE melibatkan pendidik dan peserta
didik dari dua atau lebih profesi kesehatan dan disiplin ilmu terkait yang
berdiskusi bersama mengenai konsep pelayanan kesehatan dan upaya meningkatkan
kualitas pelayanan demi kepentingan masyarakat.
2.6.2.
Karakteristik
Karakteristik khas Interprofessional
education menurut Freeth & Reeves (2004) adalah:
Mahasiswa
paham akan prinsip dasar, konsep dan konstribusi dari setiap bidang profesi.
Familiar
dengan bahasa atau istilah serta pola pikir dari berbagai jenis profesi.
Mahasiswa
harus sudah menguasai dasar keilmuan dan ketrampilan spesifik masing-masing
profesi.
Mahasiswa
harus menguasai konsep tentang kolaborasi.
2.6.3.
Tujuan
Tujuan
utama program interprofessional education ini adalah terjadinya teamwork yang
saling melengkapi antara satu profesi dengan profesi lainnya sehingga dapat
menutup lubang permasalahan pasien. Collaborative practice pun akan memberikan
dampak positif bagi penyembuhan pasien sebagai salah satu goal dari IPE.
2.6.4.
Kekurangan
dan Kelebihan
2.6.5.1.
Kekurangan
Mengenai
efisiensi waktu, yang dimaksudkan disini adalah efisiensi waktu untuk bertemu.
Setiap orang mempunyai kesibukan masing-masing sehingga untuk melakukan
komunikasi tatap muka diperlukan waktu yang tepat agar keduanya dapat bertemu
dan melakukan komunikasi interpersonal tatap muka.
Tidak
dapat berkomunikasi dengan orang yang ada di tempat yang berbeda karena
jangkauan tatap muka ini sangat terbatas sehingga memerlukan media untuk
menghubungkan antara satu sama lain agar dapat berkomunikasi. Jadi dalam tatap
muka ini yang menjadi kendala adalah waktu dan jangkauannya yang terbatas.
Seringkali
komunikan tidak saling memahami maksud pesan atau informasi dari lawan
bicaranya. Hal ini disebabkan beberapa masalah antara:
-
2.6.5.2.
Kelebihan
Feedback
antara komunikator dan komunikan akan diterima secara cepat dan dapat melihat
pula reaksi yang menjadi komunikasi non verbal dari komunikan itu sendiri.
Terdapat
kedekatan emosional karena intensitas dalam berkomunikasi.
Bisa
mengurangi noise dalam berkomunikasi karena terjadi secara langsung dan bila
ada gangguan langsung bisa dikonfirmasi.
Dapat
menyampaikan suatu pesan dengan hanya komunikasi non verbal tanpa komunikasi
verbal.
Tidak
memerlukan biaya dalam melakukannya karena dilakukan secara langsung dan
continue , sehingga mengobrol dalam jangka waktu yang lama tidak mengeluarkan
biaya.
Emosi
atau perasaan antara komunikator dan komunikan lebih terlibat dan mengurangi
kebohongan karena mimik wajah akan terlihat langsung oleh lawan bicaranya.
BAB 3
METODE PENELITIAN
Dalam
penulisan makalah ini, tim penulis menggunakan beberapa metode penelitian yang
sering digunakan antara lain metode deskriptif, metode komparatif dan
metode pustaka. Metode deskriptif (menggambarkan) adalah metode penelitian yang
memberikan gambaran tentang gejala atau keadaan tertentu sesuai apa adanya
tanpa ada manipulasi data.
Penelitian
yang tim penulis lakukan sesuai dengan prosedur berikut :
Tim penulis
dituntut untuk menemukan masalah yang ada disekitar penulis untuk diangkat
menjadi topik dalam makalah. Dalam karya tulis ini tim penulis menentukan
masalah berdasarkan skenario Plenary
Discussion yang telah disediakan.
Makalah ini tim
penulis jelaskan sesuai dengan kenyataan yang ada. Penggunaan sistem Problem Based Learningdan program FKIK
Menghafal menuai masalah baru, yaitu pengertian dan seluk beluknya. Sehingga
dalam makalah ini, tim penulis berusaha mencari simpulan yang tepat dari hal
tersebut.
3.3.1.
Sumber
data primer,
Yaitu data yang langsung dapat diperoleh dari tim penulis sendiri, sesuai
dengan pengalaman tim penulis yang telah mengikuti dan atau melaksanakan sistem Problem Based Learning dan program FKIK
Menghafal.
3.3.2.
Sumber
data sekunder
Yaitu
data yang diperoleh dari literatur-literatur atau penelitian-penelitian
terdahulu dan sumber bacaan lainnya, yang pada hakekatnya mempunyai relevansi
dengan tema penelitian ini.
Tim penulis menggunakan
seven jumps untuk mengumpulkan data yang telah
diperoleh dan menelaahnya untuk kemudian dapat dikatakan sebagai hasil kerja
kelompok tim tutorial.
Cara analisis data yang digunakan oleh tim
penulis adalah cara deskriptif (menggambarkan) yaitu gaya penulisan dengan cara menerangkan suatu masalah atau gejala
dengan memberikan deskripsi secara kasat mata atau deskripsi fisik tanpa
mencari hubungan sebab-akibat antara hal-hal yang digambarkan.
Tim penulis
membuat simpulan dengan cara mempelajari setiap pokok bahasan kemudian menelaah
kembali hal tersebut untuk membuat suatu kesimpulan.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.
Perbedaan
Gaya Belajar dan Strategi Belajar yang diterapkan di SMA dengan yang diterapkan
di Fakultas Kedokteran
- Jadwal
belajar di SMA biasanya penuh dan telah ditentukan oleh pihak kurikulum
sekolah.
Siswa tidak dapat memilih pelajaran
sesuka hati dan bersekolah dengan pola datang pagi pulang sore. Sedangkan di
universitas, mahasiswa dapat memilih mata kuliah yang ia inginkan sesuai dengan
kewajiban dan kebutuhannya. Karena mata kuliah yang dipilih sendiri ini, maka
jadwal pun menjadi tidak teratur. Jadwal masuk manusia menjadi tergantung pada
mata kuliah yang diambil. Terkadang seorang mahasiswa dapat tidak masuk di pagi
hari, dan baru mendapat pelajaran di sore harinya, bahkan kadang tidak ada mata
kuliah sama sekali dalam satu hari.
- Saat
di SMA biasanya siswa lebih pasif.
Pelajaran terpusat dari guru dan siswa
biasanya hanya menerima mentah-mentah pelajaran tersebut dari guru. Di SMA pun,
kerap kali biasanya guru lah yang mengejar-ngejar murid jika ada ketidakberesan
dalam belajar si siswa. Namun, di universitas, mahasiswa dituntut lebih
mandiri. Dalam belajar, mahasiswa harus lebih aktif dan berusaha mencari
sendiri hal-hal yang dibutuhkannya untuk belajar. Mahasiswa harus banyak
berinisiatif dan kreatif dalam belajar. Mahasiswa tidak bisa bergantung pada
dosen dan mahasiswa lah yang harus mengejar dosen jika ada keperluan. Karena
dosen tidak akan mau repot-repot mencari mahasiswa bermasalah namun tidak
berinisiatif untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
- Gaya
mengajar guru atau dosen.
Di SMA, biasanya gaya mengajar para
guru bersifat homogen. Seperti ‘itu-itu’ saja. Masuk ke kelas, menjelaskan
panjang lebar, memberi catatan, tugas dan ulangan. Namun, di bangku kuliah gaya
mengajar dosen sangat berbeda dengan guru di SMA. Perbedaan karakter antar dosen
terlihat lebih jelas dibandingkan antar guru SMA. Gaya mengajar tiap dosen
cenderung berbeda-beda. Misalnya, ada dosen yang tidak masalah kalau ada
mahasiswa yang terlambat. Namun, ada juga dosen yang cuek cuek saja. Contoh
lain, misalnya ada dosen yang menjelaskan materi dengan sangat rinci bahkan
terlalu luas, tetapi ada juga dosen yang menjelaskan dengan singkat dan hanya
akan menjelaskan lebih detail jika ditanya oleh mahasiswanya.
- SMA
siswa seringkali dimarahi atau bahkan dihukum karena terlambat, tidak mencatat,
tidak membuat tugas, sering bolos, atau bahkan tidak ikut ujian.
Hal ini sangat berbeda dengan keadaan
di universitas yang cenderung bebas. Saat di universitas, tidak akan ada yang
memarahi jika kita tidak mengerjakan tugas, atau bahkan jika tidak ikut ujian.
Semuanya tergantung pada diri kita. Dosen hanya melaksanakan kewajibannya
sebagai pengajar dan tidak akan mengingatkan kita untuk melakukan ini itu.
Namun, kebebasan ini bukanlah kesempatan untuk bermain-main. Justru ini
merupakan tantangan untuk dapat mengatur diri sendiri tanpa bantuan orang lain.
Seseorang yang berkuliah harus siap secara mental agar tidak terjerumus ke
dalam kebebasan yang ada.
- Buku
adalah teman terbaikmu, tapi tidak pada saat ujian.
Kenapa? Karena terkadang materi yang
diujikan tidak ada di buku meski kamu membacanya dan merangkum isinya sampai
tengah malam. Perluas pengetahuanmu dengan membaca buku, tapi jangan
mengandalkan buku teks saat ujian. Andalkan otakmu dan fakta yang kamu
kumpulkan.
- Dosen
tidak pernah salah.
Kata-kata dosen adalah mutlak. Kamu
tidak bisa melawannya. Melawannya hanya akan berdampak pada IPK-mu dan mungkin
seluruh kehidupan akademikmu. Jadi, saat mereka mengajar, perhatikan ceramah
mereka, meskipun sangat membosankan. Oh ya, apa yang ada di ceramah dosen
kadang keluar dalam tes, jadi catatlah! Jadilah siswa aktif yang suka bertanya.
- Belajar
kapanpun, dimanapun.
Berbeda dengan bangku SMA, di mana
kita bisa belajar semalam menjelang ujian dan tetap pintar, di bangku kuliah
kamu dituntut untuk belajar sendiri kapanpun kamu sempat. Biasakan membaca bab
selanjutnya sebelum kuliah dimulai. Percayalah, saat kamu membaca buku teks
anak kuliahan, aku percaya kamu tidak akan bisa mengertinya dalam waktu
semalam. Hal ini juga membantumu di kelas, karena dosen suka siswa yang aktif
bertanya tentang materi.
- Mengerjakan
tugas secara bertahap membantu kesehatanmu.
Tugas banyak sudah menjadi ciri umum
mahasiswa. Sayangi dirimu dengan cara membuat skala prioritas dan biasakan
mencatat tugas di buku agenda atau sticky notes supaya pada malam ini, kamu
tidak perlu mengerjakan paper sepanjang 1000 kata yang dikumpul besok pagi.
Dengan begitu, kamu tidak perlu begadang semalaman dan menyiksa dirimu. Beda
dengan SMA, di mana kamu masih bisa lolos dengan mengerjakan PR Biologi saat
pagi hari sebelum kelas dimulai dengan menyalin Punya teman -__-
- Kau
adalah kau.
Di bangku kuliah, kamu benar-benar
bebas menentukan pilihan. Apakah kamu mau belajar, terserah kamu. Apakah kamu
mau menjadi residen gamenet, terserah kamu. Apakah kamu ingin IPK tinggi,
terserahmu. Di sisi positifnya, tidak ada lagi guru yang akan mencukur rambutmu
saat sudah gondrong, tidak ada lagi baju seragam, dan tidak ada lagi ketentuan
soal pakaian. Di sisi negatifnya, bagi kalian yang hidup di “penjara”, mungkin
kebebasan yang tiba-tiba ini bisa berefek buruk.
BAB 5
PENUTUP
Berdasarkan hasil pembahasan yang
telah tim penulis uraikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa :
- Perlu
penyesuaian antara gaya dan strategi belajar yang diterapkan di SMA dengan yang
diteraokan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta karena
keduanya memang jauh berbeda.
- Problem-Based
Learning efektif dilakukan dalam kelompok kecil untuk mencapai pengalaman
belajar yang optimal bagi seluruh anggota kelompok jika dibandingkan dengan
metode konvensional.
- program
interprofessional education memungkinkan terjadinya teamwork yang saling
melengkapi antara satu profesi dengan profesi lainnya sehingga dapat menutup
lubang permasalahan pasien.
Setelah menganalisis tentang topik Skenario
Plenary Discussion, tim penulis akan
memberikan beberapa saran yang tim tunjukkan untuk mahasiswa sebagai lembaga
yang menyelenggarakan Ujian Nasional, antara lain :
1.
Mahasiswa
tersebut harus menyesuaikan diri dengan gaya dan strategi belajar yang baru di
lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan
beberapa strategi, antara lain dengan mengatur jadwal, mengatur suasana, membiasakan membaca sekilas sebelum belajar
dan mengusir stress.
2.
Mahasiswa
tersebut harus berlatih untuk memanajemen waktu dengan baik agar mahasiswa
dapat mengikuti sistem pembelajaran yang didalamnya juga terkandung materi
kedokteran dan FKIK Menghafal dengan baik dan lancar.
3.
Mahasiswa
haruslah menerapkan pembelajaran Interprofessional
Education dengan baik dan benar sesuai dengan tujuan awalnya.
4.
Mahasiswa
harus aktif mencari tahu tentang sistem pembelajaran tersebut dari berbagai
sumber yang valid, relevan, dan terkini
semoga bisa membantu mengarahkan adik-adik yg bingung untuk membuat tugas proposalnya ya :)
wassalamualaikum :)